Umurnya baru 28 tahun. Namun Abah Ugi sudah menjadi pemuka adat
Kasepuhan Ciptagelar sejak enam tahun lalu. Dia menggantikan ayahnya,
Abah Anom (Encup Sucipta), meninggal pada 2007.
Abah Ugi mengaku
membawahi 568 kampung tersebar di tiga kabupaten, yakni Bogor dan
Sukabumi di Jawa Barat serta Lebak di Provinsi Banten. Sebelum menetap
di Ciptagelar, leluhurnya berpindah-pindah tempat sesuai wangsit.
Mereka
pernah menetap di Ciptarasa. Abah Ugi mengungkapkan ayahnya telah
memperoleh wangsit untuk pindah ke Ciptagelar pada 1998. Setelah yakin,
baru tiga tahun kemudian Abah Anom bersama keturunan dan pengikutnya
menjalankan pesan itu. Pilihannya cuma dua, pindah atau mati dan yang
diwajibkan pindah itu cuma delapan keluarga," kata Abah ugi kepada merdeka.com, Ahad pekan lalu. Tapi di luar itu terserah. "Mau pindah boleh, tidak mau juga tidak apa-apa."
Ada
yang berubah sejak mereka pindah. Menurut Abah Ugi, semasa bermukim di
Ciptarasa, warga baru mengenal teknologi sebatas radio pemancar AM. Tapi
di Ciptagelar, bukan sekadar sudah ada pemancar FM, mereka telah
memiliki stasiun radio diberi nama Ciptagelar Radio.
Bahkan,
mereka sudah mendirikan stasiun televisi bernama Ciga TV. Meski begitu,
Abah Ugi menegaskan warganya tetap memegang tradisi. "Sejak 1980-an ke
bawah, memang tidak ada listrik, teknologi baru masuk paling baterai
lalu radio nyalanya tiga bulan sekali," ujar Abah Ugi. Namun ketika
ayahnya memimpin, dia mencari tahu bagaimana mendapatkan teknologi baru
tanpa mengganggu kehidupan adat.
Abah Ugi menjelaskan pada 1988
ayahnya membuat turbin air dengan kayu blebek buat membangkitkan
listrik. Tenaga dihasilkan sekitar tiga ribu watt dan mampu menerangi 50
rumah. Ayahnya membuat itu secara otodidak.
Pada 1990-an,
ayahnya membangun ulang pembangkit listrik tenaga air menggunakan dua
kincir untuk menerangi dua desa, Sinaresmi dan Sirnagalih. Namun turbin
hanya mampu bertahan dua tahun lantaran pemakaian warga melebihi
kapasitas. mereka kemudian mendapat bantuan dari Jepang buat membangun
turbin mampu menghasilkan 80 ribu watt listrik. Karena sudah lama dan
ada yang rusak daya keluar kini hanya setengahnya. Sekarang Desa
Sirnagalih sudah masuk listrik dari PLN.
Meski cuma tamatan SMA,
Abah Ugi mengaku sudah tertarik soal teknologi sejak SD. Bahkan istri
abah, Emak Alit, mengatakan abah sudah bisa merangkai radio sejak SMP
kelas tiga dan bikin petasan sedari SD.
Abah Ugi pun memiliki
idola selain ayahnya dalam hal teknologi. "Pokoknya yang membangun
kemajuan bagi seluruh dunia abah suka, seperti Thomas Alfa Edison dan
Graham Bell."
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

0 komentar:
Posting Komentar