News Update :

Pemuka Adat Melek Tecnologi

Rabu, 01 Mei 2013

Umurnya baru 28 tahun. Namun Abah Ugi sudah menjadi pemuka adat Kasepuhan Ciptagelar sejak enam tahun lalu. Dia menggantikan ayahnya, Abah Anom (Encup Sucipta), meninggal pada 2007.

Abah Ugi mengaku membawahi 568 kampung tersebar di tiga kabupaten, yakni Bogor dan Sukabumi di Jawa Barat serta Lebak di Provinsi Banten. Sebelum menetap di Ciptagelar, leluhurnya berpindah-pindah tempat sesuai wangsit.

Mereka pernah menetap di Ciptarasa. Abah Ugi mengungkapkan ayahnya telah memperoleh wangsit untuk pindah ke Ciptagelar pada 1998. Setelah yakin, baru tiga tahun kemudian Abah Anom bersama keturunan dan pengikutnya menjalankan pesan itu. Pilihannya cuma dua, pindah atau mati dan yang diwajibkan pindah itu cuma delapan keluarga," kata Abah ugi kepada merdeka.com, Ahad pekan lalu. Tapi di luar itu terserah. "Mau pindah boleh, tidak mau juga tidak apa-apa."

Ada yang berubah sejak mereka pindah. Menurut Abah Ugi, semasa bermukim di Ciptarasa, warga baru mengenal teknologi sebatas radio pemancar AM. Tapi di Ciptagelar, bukan sekadar sudah ada pemancar FM, mereka telah memiliki stasiun radio diberi nama Ciptagelar Radio.

Bahkan, mereka sudah mendirikan stasiun televisi bernama Ciga TV. Meski begitu, Abah Ugi menegaskan warganya tetap memegang tradisi. "Sejak 1980-an ke bawah, memang tidak ada listrik, teknologi baru masuk paling baterai lalu radio nyalanya tiga bulan sekali," ujar Abah Ugi. Namun ketika ayahnya memimpin, dia mencari tahu bagaimana mendapatkan teknologi baru tanpa mengganggu kehidupan adat.

Abah Ugi menjelaskan pada 1988 ayahnya membuat turbin air dengan kayu blebek buat membangkitkan listrik. Tenaga dihasilkan sekitar tiga ribu watt dan mampu menerangi 50 rumah. Ayahnya membuat itu secara otodidak.

Pada 1990-an, ayahnya membangun ulang pembangkit listrik tenaga air menggunakan dua kincir untuk menerangi dua desa, Sinaresmi dan Sirnagalih. Namun turbin hanya mampu bertahan dua tahun lantaran pemakaian warga melebihi kapasitas. mereka kemudian mendapat bantuan dari Jepang buat membangun turbin mampu menghasilkan 80 ribu watt listrik. Karena sudah lama dan ada yang rusak daya keluar kini hanya setengahnya. Sekarang Desa Sirnagalih sudah masuk listrik dari PLN.

Meski cuma tamatan SMA, Abah Ugi mengaku sudah tertarik soal teknologi sejak SD. Bahkan istri abah, Emak Alit, mengatakan abah sudah bisa merangkai radio sejak SMP kelas tiga dan bikin petasan sedari SD.

Abah Ugi pun memiliki idola selain ayahnya dalam hal teknologi. "Pokoknya yang membangun kemajuan bagi seluruh dunia abah suka, seperti Thomas Alfa Edison dan Graham Bell."
Share this Article on :

0 komentar:

Posting Komentar

 

© Copyright GoNews 2010 -2011 | Design by Herdiansyah Hamzah | Published by Borneo Templates | Powered by Blogger.com.